Expecting The Worst

Saya termasuk orang yang pesimis. Di dalam melakukan ekspektasi/harapan, saya selalu melihat kasus terburuk yang mungkin timbul. Saya selalu bersiap-siap kalau-kalau kasus terburuk tersebut benar-benar terjadi. Contohnya, di dalam memprediksi nilai ujian, saya selalu memprediksi nilai terburuk yang mungkin saya dapatkan. Saya tidak memprediksi nilai terbaik yang mungkin saya dapatkan. Kenapa? Karena menurut saya, dengan memprediksi nilai terburuk, saya masih mempunyai harapan untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dari prediksi saya tersebut. Sedangkan, kalau saya memprediksi nilai terbaik, saya harus siap-siap dikecewakan jika nilai saya lebih jelek dari prediksi saya tersebut.

Di satu sisi, saya setuju kalau kita harus optimis, dalam batas-batas tertentu. Tapi menurut saya, sikap pesimis dengan melakukan “expecting the worst” (memperhitungkan kasus terburuk yang mungkin terjadi) juga ada baiknya. Apa saja kebaikannya?

  1. Kita dapat bersiap-siap untuk menghadapi kejadian tersebut. Seandainya benar-benar kasus terburuk tersebut yang terjadi, kita sudah siap dan dapat lebih kuat menghadapinya. Berbeda jika ekspektasi kita begitu tinggi, kita tidak siap jika ternyata kasus yang buruk yang terjadi.
  2. Kita mempunyai harapan dan jaminan bahwa masa depan yang akan terjadi pastilah lebih baik dari (atau setidaknya sama dengan) ekspektasi kita. Kalau kita mempunyai ekspektasi yang tinggi, kita malah harus bersiap-siap untuk kecewa jika kenyataan tidak sebaik ekspektasi kita. Kita akan lebih sakit kalau jatuh.
  3. Kita akan lebih mensyukuri apa yang kita dapatkan, karena yang kita dapatkan selalu lebih baik dari (atau setidaknya sama dengan) ekspektasi kita. Sedangkan kalau kita mempunyai ekspektasi yang tinggi, dan ternyata jatuh, kita akan lebih mudah untuk mengeluh dan kecewa.

Bagaimana pendapat pembaca? πŸ˜‰

Iklan

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

17 responses to “Expecting The Worst”

  1. Andra says :

    Pesimis itu cukup berbahaya. Bisa-bisa (secara sadar tak sadar) kita menjadi kurang produktif.

    Tetapi memang lebih berbahaya lagi kalo terlalu optimis, sebelum hasilnya nyata sudah diumbar kemana-mana. *eh malah bangkrut.

    Jadi milikilah ekspektasi tidak berlebihan dan beralasan. Menurut saya ini lebih tepat.

    Sedikit pengalaman saya waktu kerja sebuah ISV. Si bos tanya: “Kapan kira-kira selesai?”. Saya jawab: “Mungkin besok bisa.”. Eh dia balas: “Jangan mungkin, saya mau yang pasti. Kalo bisa, ya bisa. Kalau enggak, ya enggak.”. Saya menjadi ragu, dan akhirnya bilang: “Kalau 3 hari bagaimana?”.

    Dia tanya balik: “Dasarnya apa kamu bilang 3 hari?”
    Saya kaget karena yang namanya ngembangin modul pada software ini untung-untungan. Kalau lagi beruntung, hari ini bisa jadi. Kalau kurang konsen, bisa-bisa sebulang tidak selesai2.

    Tapi point pentingnya, sebisa mungkin ekspektasi kita beralasan.

  2. hanggadamai says :

    setuju banget…sama ketiga2nya..

  3. iLm@N says :

    wah, topiknya bikin pengen ikut ngomentarin nih.. soalnya gw kebalikan 100% dari charles: gw terlalu optimis dan berpikir positif, sampai2 gw nggak ahli buat bikin worst case segala macem kemungkinan. gw ga sadar kalo ini adalah kelemahan gw sampai kemarin gw berpartner dgn mia dan alex pas PMB..

    sekarang gw lebih sadar bahwa dunia itu nggak seideal yang gw bayangkan dan optimiskan.. tapi untuk beberapa kasus, tetep aja gw ga bisa ga optimis (sebenernya agak menipu diri karena buat menyenangkan diri aja), yaitu pas ujian. kebalikan lagi sama charles, gw masang target optimis tinggi, tapi dengan usaha minimal.. jadinya ya gw ga kecewa juga nilai2 gw jelek, hehe..

  4. waterbomm says :

    saya juga sering begitu..
    apalagi kalo soal nilai ujian.. πŸ˜€

  5. RedZz says :

    Cha, kLo gw sih nyampurin antara ‘pesimis’ yg u maksud,
    sama pikiran positip..
    u bisa Liad parahnya efek kata2 negatif ato sugesti negatif di
    http://redzzthelady.wordpress.com/2008/06/04/my-mood-swings
    (sekaLian promosi bLog =p)

    tapi menurut gw expecting the worst itu Lebih baik.
    asaL bisa nge-mix na aja..

    contohnya, waktu gw Lagi cek puLsa, gw seLaLu biLang daLem ati,
    “pasti tinggaL seribu, seribu, seribu… seribu….”
    ternyata waktu keLuar, masih 4ribu..
    gw bisa bersyukur.

    nah, tapi kLo keLuarnya tiba2 gopek, gw bisa
    “untung gw cek sekarang. coba kaLo kagak,
    bisa2 gw gk ada puLsa untuk sms temen gw minta puLsa”
    =p

    intinya, expecting the worst bukan untuk menjadi negatif,
    tapi untuk mempersiapkan diri kita untuk yg terburuk.

    jadi, inti dari komen gw yg tidak berinti ini adaLah,
    gw setujuhbeLas sama Lo, Cha.
    Lo emang paLing TOP dah!!!! *four thumbs up*

  6. aGa says :

    Eh, punya blog juga. Hehehe =]

    thanks buat artikelnya. Membantu dalam menunggu nilai UAS.

    Hahahaha.

    aGa

  7. valent says :

    setuju…!!

    gw pernah nonton film… gw lupa film apaan..

    di film itu seseorang berkata…

    “kita harus memprediksikan setiap masalah itu adalah masalah yg paling buruk, dengan mempersiapkan penanggulangan masalah yg terbaik…”

    kurang lebih begitu…

    intinya : apa bila kita memprediksikan sesuatu, prediksikanlah kemungkinan terburuk. agar kita dapat mengantisipasinya.

    πŸ™‚

  8. valent says :

    Ralat..

    Intinya : Apa bila kita memprediksikan sesuatu, prediksikanlah kemungkinan terburuk… Agar kita dapat mengantisipasinya dengan cara yg terbaik…

  9. anthonysteven says :

    prepare for the worst, hope for the best, expect every possibiltity

  10. Charles says :

    @Andra:

    Benar, pesimis itu kadang bisa membahayakan, demikian pula dengan sikap optimis. Alangkah baiknya kalau kedua sikap itu bisa digabungkan untuk menghasilkan yang terbaik.

    Jadi milikilah ekspektasi tidak berlebihan dan beralasan. Menurut saya ini lebih tepat.

    Saya setuju dengan pernyataan ini. Istilah lainnya adalah realistis. Namun saya lebih sering mengurangi ekspektasi saya dari yang realistis, dan mengharapkan hal yang terjadi lebih baik dari ekspektasi saya. (Loh jadi ekspektasinya yang mana nih? hehe)

    @hanggadamai:
    kita sepaham nih mas, hehe…

    @iLm@N:
    Ga sampai 100% lah man, hehehe… Ada satu hal yang gw suka dari sifat optimis, yaitu optimist people always see everything from the bright side… Gw sendiri berusaha untuk bisa melihat segala sesuatu dari sisi baiknya (meskipun masih sulit gw lakukan), tapi gw percaya pasti ada hal baik yang bisa diambil dari setiap hal yang terjadi di dalam hidup ini, seburuk apapun itu. πŸ™‚

    Kalau soal target ujian (sebelum ujian), menurut gw sebaiknya pasang target optimis realistis n’ berikan usaha yang terbaik… Usahanya harus ditambah tuh man, pasti nilainya bisa lebih bagus… Tunjukkan usaha kita untuk mencapai target yang telah kita tetapkan. :mrgreen:

  11. Thomas kinnison says :

    mmm….
    ne gw hanya baca dikit dr jutaan kata.kata di atas dan…
    kykna gw jg gtu dulu kelas X .sepuluh.
    dan skarang gw klas XI.IPS
    Ikatan.Pelajar.Sukses
    dalam keseharian ,kami-gw khususnya- menjalani hidup sbagai pelajar dengan SANTAì -IPS-Ikatan Pelajar Santai-

    Jadi . . .
    seperti lagunya Bhang.Haji
    Santai…yok kita santai agar otot tidak tegang…

  12. sigid says :

    Pesimisme dalam konteks yang dibicarakan mas Charles memang kadang menjadi cara yang jitu untuk “menentramkan” hati, banyak saya kira yang melakukannya; termasuk saya :mrgreen:
    Mungkin semacam menghindari pepatah semacam “semakin tinggi orang memanjat, semakin keras jatuhnya”

    Tapi dalam beberapa hal lain, saya justru hanya meyakini yang terbaik karena saya yakin hanya yang terbaiklah rencana Dia buat kita. Hal ini pula salah satu yang membantu saya melewati banyak kerikil hidup meski kadang kita merasa “helpless”, namun keyakinan itu menguatkan dan membuat kita bisa berjalan lagi. πŸ˜€

  13. Lex dePraxis says :

    Saya optimis pesimis itu ada gunanya. πŸ˜€

  14. Charles says :

    @waterbomm:
    Wah, kita sama dong ya… πŸ˜€

    @RedZz:
    Bener Bun… Yang dimaksud di sini bukan artinya jadi berpikir negatif yang bisa menjatuhkan diri… Ada mix dengan pikiran positip juga, hehe. btw, komennya berinti kok… Makasi ya.

    @aGa:
    Eh ketemu Aga… hehe. Syukurlah artikelnya bisa bermanfaat. Good luck untuk nilai ujiannya ya… πŸ˜€

    @valent:
    Yup… setuju. Kita mempersiapkan kemungkinan terburuk dengan cara terbaik, agar jika kemungkinan itu benar-benar terjadi, kita telah siap…

    @anthonysteven:
    wah, banyak sekali ekspektasinya… :mrgreen:

    @Thomas kinnison:
    wah, kayanya postingan saya ga ampe jutaan kata deh, hehehe… iya bener santai aja, ga usa tegang-tegang… πŸ™‚

    @sigid:
    Benar mas Sigid, cara itu biasanya bisa menentramkan hati saya, dan Dia yang senantiasa memberikan saya harapan, yang terbaik untuk hidup saya… πŸ˜€

    @Lex dePraxis:
    Ternyata optimis dan pesimis bisa disandingkan juga ya? πŸ˜€

  15. Iis Kusaeri says :

    Wow!! Amazing bro. Keep writing and your spirit!! May God be with you.

  16. Refly Hadiwijaya says :

    Ikut komen ah…
    Gw sendiri termasuk orang yang optimis, tapi optimis yang realistis (bahasanya.. :mrgreen: ). Contohnya, ujian A*** kemarin gw sadar kalo gw kurang bisa ngerjainnya, ada kesadaran juga klo bisa2 ga lulus kuliah !menyenangkan tersebut, tapi gw tetap punya ekspetasi dan cukup percaya bahwa gw lulus. Intinya, setuju dengan Andra. Milikilah ekspetasi yang beralasan. Gw juga setuju sm Charles dengan ‘pesimis’ dalam konteks seperti yg ditulis. Mungkin lebih tepat bukan pesimis, tapi mempersiapkan diri buat kemungkinan terburuk. Klo terlalu pesimis ga baik juga, sama juga klo terlalu optimis. Lihat realita..!

    ~sorryKloKepanjangan….

  17. Charles says :

    @Iis Kusaeri:
    Makasi… May God be with u too… πŸ˜€

    @Refly Hadiwijaya:
    jadi A*** hasilnya gimana Ref? hehe… Iya, tulisan gw di atas bukan sedang menyoroti tentang pesimisnya, tapi tentang mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk. Mungkin kalimat pertamanya yang mengganggu ya, hehe…

    ~traktirGwPizzaYaKarenaKepanjangan… hahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: