Tanggung Jawab Seorang Asdos

Hari ini, lagi-lagi saya memberikan asistensi MD 2 sendirian… Asistensi dijadwalkan dimulai jam 3. Saat itu saya sedang bersama seorang asdos lainnya, tapi karena dia mau print tugasnya dulu sebentar, jadi saya naik duluan. Sampai di atas, saya sudah melihat beberapa anak 2007 berkumpul menunggu asistensi dimulai. Saya langsung mencari Pak Wiryo untuk meminjam ruangan untuk asistensi (maaf pak Wiryo, saya terlambat memberitahu…). Pak Wiryo dengan baiknya langsung memberikan ruangan di lantai 3, dengan syarat bangkunya diberesin setelah asistensi. Makasih, pak… ^^

Waktu sudah menunjukkan pukul 15:05 ketika saya masuk ke dalam ruangan asistensi. Seperti yang saya duga, di antara 3 asdos yang telah sepakat mengadakan asistensi hari itu (bahkan yang menentukan jamnya adalah salah satu dari 2 asdos sisanya selain saya), hanya saya saja yang ada. Jujur, saya belum siap mengadakan asistensi saat itu. Banyak kesibukan lain yang membuat saya belum mempelajari apa yang akan saya ajarkan hari itu. Kepada anak 2007 yang mengikuti asistensi saya hari ini, saya mohon maaf karena saya tidak memberikan banyak hal dalam asistensi itu (seperti juga minggu sebelumnya, kebanyakan berisi hal-hal yang sebenarnya kalian sudah tahu atau bisa pelajari sendiri).

OK, back to the story… Hari itu seharusnya kami (3 orang asdos MD 2, sebutlah si A, si B, dan saya) memberikan asistensi dengan topik relasi. Saya sudah mencari-cari worksheet dan soal-soal jaman bahala. Si A sudah bersedia memberikan asistensi tentang worksheet tahun lalu (yang belum sempat saya pelajari lagi). Karena itu, saya meng-copy worksheet itu untuk semua peserta asistensi (dengan harapan nanti si A akan menjelaskan). Nyatanya? Si A yang menentukan jadwal asistensi ini ternyata tidak hadir saat asistensi, tanpa pemberitahuan apapun kepada saya, bahkan sepuluh menit sebelum saya mengadakan asistensi, dia masih bersama saya tanpa mengatakan kalau dia tidak akan datang ke asistensi.

Begitu juga dengan si B. Sudah pukul 15:15, si B masih tidak terlihat. Memberi kabar pun tidak. Padahal sehari sebelumnya, saya memberikan sebagian handout yang saya punya untuk dia pelajari. Hhh…

Akhirnya, di asistensi ketiga ini, saya kembali sendiri… Di asistensi pertama, saya bersama si A, tapi si A ga ngomong sama sekali. Belum siap katanya… Di asistensi kedua, saya asistensi sendiri, saat itu saya juga ditinggalkan si A tanpa kabar. Kalau si B tidak hadir mungkin memang salah saya yang tidak mengabari dia kalau akan ada asistensi, meskipun saya bukan koordinator asdos MD 2 kan? OK, belajar dari kesalahan, saya mengabari si B kalau akan ada asistensi hari ini, memberikannya bekal untuk belajar, dan meminta A yang menetapkan jadwal asistensi (dengan harapan si A pasti bisa hadir). Namun kenyataannya, usaha saya kembali sia-sia… Saya asistensi sendiri lagi.

Jam menunjukkan pukul 15:20. Saya sudah memberikan worksheet kepada peserta asistensi yang hadir, dengan harapan sambil menunggu si A dan si B. Namun, karena batang hidung mereka pun tidak terlihat, saya telepon si A juga tidak diangkat, kembali saya mengalami dilema… Dilema apa? Di satu sisi, saya belum siap untuk memberikan semua topik relasi (harusnya dibagi-bagi dengan si A dan si B). Kalau yang ini sih kesalahan saya yang kurang bisa membagi waktu di tengah kesibukan saya. Di sisi lain, saya mempunyai tanggung jawab sebagai seorang asdos untuk membantu peserta kuliah mengerti tentang topik kuliah itu. Saya sebenarnya masih ingat topik yang harus saya berikan, tapi saya masih harus me-refresh-nya kembali karena sudah setahun berlalu. Siap tidak siap, saya harus memberikan apa yang saya tahu untuk membantu mereka. Akhirnya, saya pun memulai asistensi itu… sendiri!

Seperti yang telah diduga, awal asistensi berlangsung dengan kacau. Bahkan, tiba-tiba saya menjadi blank, hingga pertanyaan paling dasar, “Apa itu relasi?” saja tidak bisa saya jawab. Saya tahu, asalkan melihat handout, saya pasti bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi ternyata handout saya dibawa si B, peserta asistensi yang lain pun tidak ada yang membawa handout, akhirnya saya pun terlihat seperti ayam kehilangan induknya, bingung harus menjawab apa…

Asistensi terus berlangsung. Saya memilih soal-soal yang saya pernah jawab dan cukup saya kuasai untuk saya berikan di depan kelas. Awalnya memang terasa sangat sulit, namun seiring berjalannya waktu, saya sudah mulai beradaptasi dan bisa memberikan “sesuatu” kepada mereka, meskipun sedikit. Di tengah asistensi, tiba-tiba si B datang dan mengabari kalau dia tidak bisa asistensi. Hm, meskipun dia agak terlambat memberitahu, tapi saya hargai dia memberikan kabar.

Meskipun berlangsung kacau, akhirnya asistensi itu selesai juga… Saya memberikan semua yang bisa saya berikan, yang sebenarnya sangat terbatas. Saya belajar untuk mempersiapkan asistensi lebih serius dan membagi waktu dengan lebih baik. Saya belajar untuk tetap bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan tidak melarikan diri begitu saja. Siap ataupun tidak siap, harus saya tanggung, karena itu tanggung jawab saya. Kalau saya tidak siap, itu artinya salah saya. Jangan korbankan peserta asistensi yang telah menunggu dengan setia.

Untuk A dan B, saya tidak ada masalah pribadi apa-apa… Saya cuma mau mengajak kalian untuk lebih bertanggung jawab. Kalau pun tidak bisa hadir, beri kabarlah dari jauh-jauh waktu sehingga saya bisa mempersiapkan asistensi sendiri dari jauh-jauh waktu juga. Kita harus lebih peduli ke mahasiswa bimbingan kita. Kalau kita bisa membantu mereka sehingga mereka bisa lebih mengerti, mengapa tidak kita lakukan? Terlebih, inilah tanggung jawab kita sebagai seorang asdos.

Untuk semua peserta asistensi tadi… Maafkan saya karena saya kurang mempersiapkan bahan. Tadi saya sudah berusaha berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyesatkan, namun ada baiknya diperiksa lagi ya dengan handout-nya. Maaf kalau apa yang saya bagikan di dua asistensi terakhir ini tidak maksimal, malah cenderung membosankan karena mengulang hal-hal yang dasar. Sebagai gantinya, saya akan mencoba mempelajari lagi topik-topik itu, dan saya akan ada di perpustakaan hari Senin nanti jam 10 pagi sampai jam 1 siang. Jika ada yang masih bingung atau ingin ditanyakan, bisa ditanyakan saat itu. Saya tidak janji pasti bisa, tapi saya akan berusaha semampu saya membantu kalian. Satu hal yang menjadi pesan saya, jangan bolos kuliah yah… Saya sengaja memberikan waktu lebih panjang (3 jam) supaya kalian bisa tetap kuliah. Terima kasih untuk kehadirannya di asistensi tadi, untuk perhatiannya, dan untuk kerjasamanya dengan aktif menjawab saat saya memberikan pertanyaan. I appreciate it! Good luck for the exams… 😀

update: B ternyata SMS saya, tanya asistensinya di mana. Yah meskipun asistensi pasti di lantai 3 atau 4, OK lah, mungkin B tidak tahu di ruangan mana. B juga baru saya beri kabar kemarin sih. Untuk B masih saya maklumi.

update: A juga sudah memberikan pertanggungjawabannya dan saya bisa menerimanya. Saya mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati kalian. Saya hanya mengungkapkan isi hati saya saja. Sebenarnya salah saya juga tidak mempersiapkan asistensi dengan baik. Semoga ke depannya, kami (para asdos MD) bisa memberikan yang terbaik kepada teman-teman peserta kuliah. 😀

Iklan

Tag:, , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

12 responses to “Tanggung Jawab Seorang Asdos”

  1. Ricky says :


    Tak bisa berkata banyak…


    Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, memang saya salah telah menelantarkan asistensi MD.

    Untuk asistensi hari ini (25 April 2008), sebenarnya saya dihadapkan oleh dua pilihan, antara asistensi MD atau pekerjaan mengecek akun.
    Pekerjaan mengecek akun merupakan pekerjaan untuk memastikan akun berjalan dengan baik beserta aplikasi yang berjalan di dalamnya. Saya sebagai asisten FMSE memang ditugaskan untuk melakukan pengecekan akun sebanyak 240 (160 di SCeLE dan 80 di komputer lab). Tugas mengecek akun di SCeLe memang diberikan sedikit mendadak dan saya terlambat membaca e-mailnya, sedangkan besok (26 April 2008) workshop sudah berlangsung dan akun-akun itu harus sudah bisa digunakan secara baik. Sekitar beberapa menit yang lalu sejak saya menulis ini, saya baru menyelesaikan pengecekan 160 akun tersebut. Saya juga masih harus mengecek 80 akun lagi di komputer lab. Sampai tulisan ini akan dikirim, saya belum mengecek 80 akun.
    Selain itu, saya berpikir bahwa masih ada 2 orang asisten lainnya yang akan memberikan asistensi di mana asisten yang satunya yang saya dengar dari Charles sebelum asistensi akan menjelaskan relasi (materi yang akan saya jelaskan juga).
    Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk melakukan pekerjaan mengecek akun dengan harapan asistensi tetap dapat berjalan dengan baik.
    Setelah mengetahui keadaan yang seperti Charles ceritakan di atas, saya merasa sangat bersalah.

    Untuk 2 asistensi sebelumnya, saya mengakui memang saya belum siap karena bukan merupakan materi yang sangat saya bisa dan yakin bahwa Charles akan memberikan asistensi yang lebih baik. Untuk hal ini, saya juga meminta maaf karena belum bisa memberikan apa-apa.

    @Charles:
    Maaf banget ya sudah merepotkan… 😦
    Terima kasih banyak untuk asistensi dan kritikannya…

    @Peserta asistensi:
    Maaf banget ya sudah mengecewakan kalian… 😦
    Saya mengakui memang sampai saat ini saya belum bisa menjadi asisten MD II yang baik.

    @Charles dan peserta asistensi:
    Saya berjanji untuk asistensi berikutnya saya akan berusaha memberikan semua yang saya bisa karena materi-materi berikutnya merupakan materi yang sangat saya bisa. Jika di asistensi berikutnya saya tetap belum bisa memberikan yang terbaik, saya bersedia mengundurkan diri dari asisten MD II.

    -ricky

  2. Ricky says :

    @Peserta asistensi:
    Selamat ujian… semoga cepat memahami materi dan bisa mendapat nilai yang baik.
    Untuk menebus kesalahan, saya juga bersedia ditanyai besok setelah workshop mengenai materi ujian sampai malam.

  3. yud1 says :

    wah, nostalgic… 🙄

    tapi, yah, ada cara yang lebih gampang, sih.

    selalu siap untuk asistensi sendirian, terutama punya material sendiri dan sudah tahu mau ngomong apa. kalau ada asdos lain yang mau ikutan sih, itu bonus. :mrgreen:

    ~ketergantungan itu
    ~bisa berbahaya kadang-kadang 🙄

  4. Charles says :

    @Ricky:
    Terima kasih untuk penjelasannya. I appreciate it. Jangan salah artikan kritikan saya yah… Bukan maksudnya untuk menjelek-jelekkan (saya pun masih banyak kekurangan), saya hanya ingin mengajak kita sebagai asdos untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang kita bimbing. Itu saja. Kejadian ini juga membuat saya introspeksi diri saya, karena saya merasa yang saya berikan kepada mereka saat ini masih jauh dari maksimal. Semoga kita bisa bekerja sama dengan lebih baik lagi ke depannya. 😀

    @yud1:
    Bener, saya belajar untuk mempersiapkan keseluruhan bahan, dan tidak bergantung pada yang lain. Terima kasih untuk sarannya 😀

    Sebenarnya saya waktu asistensi itu sudah ada bahan juga sih, tapi secara psikologis saya shock karena cuma sendiri (planningnya bertiga), jadi blank di awal-awal… Kejadian yang hampir selalu terjadi saat saya ujian. 😦

  5. hanggadamai says :

    wuah pengalamannya hampir mirip diriku..

  6. oscarz says :

    But anyway, terima kasih banyak….

    ~padahal saya gak ngerasa kemaren kalo ko Char lagi kesusahan…..

  7. waterbomm says :

    gitu ya.. tugasnya asdos 😀 berat juga

  8. Charles says :

    @hanggadamai:
    mas hangga ada pengalaman apa? bagi-bagi donk, hehe

    @oscarz:
    sama-sama… 😀 masa ga ngerasa? padahal kayanya keliatan banget deh, hehe

    @waterbomm:
    memang berat, tapi kalo yang dibimbingnya berhasil seneng banget kok… 😀

  9. Ardith says :

    Menurut saya asistensi kemarin sangat menambah pengetahuan saya tentang relasi sehingga saya cukup lancar mengerjakan soal ujian kemarin. Semoga saja hasil ujiannya baik :).. Terima kasih ya Kak Char..

  10. sluman slumun slamet says :

    sebagai dosen, saya hanya bisa mengucapkan
    “semangatttttttt………….”

  11. deni says :

    Wah gw baru baca ni, les 😀
    terharu juga, hehe..
    tapi charles emang mangstap dah! ^^
    *gimana imagine? 😛

  12. Charles says :

    @Ardith:
    Ternyata ada manfaatnya juga ya… syukurlah. Iya, semoga hasil ujiannya baik ya, kalo dapet bagus nanti traktir2 ya… :mrgreen:

    @sluman slumun slamet:
    Senangnya diberi semangat oleh seorang dosen… makasi ya pak… 😀

    @deni:
    deni lebih mangstap lagi… haha. Imagine? Kapan nih beli tiket ke Perancis? hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: