Pengemis Pun Merokok!

Bulan lalu, saya pernah menulis sebuah artikel tentang rokok: “Budaya Merokok: Sebuah Ironi“. Pada postingan tersebut, saya menyebutkan sebuah fakta yang sempat mengejutkan saya, yaitu seorang tokoh yang saya kagumi di kampus saya, yang saya jadikan role model, ternyata adalah seorang perokok. Ternyata, keterkejutan saya tidak berhenti sampai di sana. Selama sebulan ini, saya menemukan sendiri beberapa fakta tentang perokok, dan fakta-fakta itu membuat saya terkejut… :shocked:

Mengemis tapi Merokok!?

Ini adalah sebuah kisah nyata yang membuat saya tidak habis pikir. Suatu hari di pintu sebuah stasiun di Jakarta, saya melihat seorang bapak yang duduk di emperan pintu. Bajunya kumal dan dia menyodorkan suatu kantong ke setiap orang yang lewat, berharap ada orang yang berbelas kasihan memberinya sepeser uang… Orang yang lewat di sana, mungkin akan berbelas kasihan melihat rupanya, tapi pasti akan langsung berubah pikiran ketika melihat benda yang dia pegang di tangan kanannya. Apa yang dia pegang? Rokok!

Hebat sekali Indonesia ini… Pengemis aja merokok. Mungkinkah rokok itu yang membuatnya mengemis? Saya tidak tahu… Tapi yang pasti, dia mengeluarkan uang untuk membeli rokok itu (atau ada yang memberikannya rokok gratis!?). Dan dari mana uang itu? Itu adalah uang hasil belas kasihan orang kepadanya (saya asumsikan dia tidak pengemis penipu yang mengemis padahal dirinya berkecukupan). Rokok sudah menjadi kebutuhan pokok pengemis tersebut. Kasihan sekali… Mengemis untuk merokok…

Nenek-nenek Merokok

Nah, ini saya temukan beberapa ratus meter dari stasiun yang saya ceritakan di atas. Saya menemukan seorang nenek dengan wajah yang tidak ramah sedang duduk di emperan jalan, sendirian… Sejauh yang saya lihat, dia tidak mengemis. Tapi, penampilannya menunjukkan kalau dia hidup berkekurangan (sekali lagi saya asumsikan nenek itu tidak kurang kerjaan saja duduk di emperan jalan dengan pakaian seperti itu).

Apa yang sedang dilakukan nenek itu, orang yang sudah tua renta itu? Dia sedang MEROKOK! Oh, no… Ketika saya melihat dia sedang menghisap batangan rokok yang sudah sangat kecil, saya sangat terkejut! Seorang nenek di pinggir jalan pun merokok… Ada apa dengan negeri ini!?

Di kampus…

Setelah saya mengamat-amati, jumlah orang yang merokok di kantin fakultas saya semakin bertambah. Sepertinya mereka semakin bebas merokok di kantin yang dahulu terkenal bebas dari asap rokok ini. Tapi, keadaan di fakultas saya masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan fakultas tetangga saya. Di salah satu fakultas tetangga saya, kantinnya terkenal dengan sebutan Kansas (dahulu, kepanjangannya kantin sastra, sekarang… kantin asap!). Tengoklah pula fakultas tetangga saya yang lain. Suatu malam, saya melihat begitu banyaknya puntung rokok bertebaran di kantin itu, yang ukurannya sangat kecil, mungkin sekitar 10 meter x 10 meter. Penasaran, saya pun mencoba menghitung jumlah bungkus rokok dan puntung rokok yang ada di sana. Hasilnya sangat mengejutkan saya! Di kantin yang kecil itu, saya menemukan 16 bungkus rokok dan sekitar 250 puntung rokok! Jumlah itu tidak termasuk dengan yang ada di tempat sampah, alias hanya yang bertebaran di lantai dan meja. Dan, semua puntung-puntung itu selalu dibersihkan setiap pagi. Artinya, jumlah itu adalah konsumsi sehari mereka yang duduk di kantin itu! Mau tahu itu kantin fakultas apa? Fakultas Hukum!

Ada yang mengatakan, sekarang mahasiswa, besok menjadi pemimpin. Bagaimana mungkin pemimpin yang di masa depan akan menegakkan keadilan, mengkampanyekan undang-undang dilarang merokok, ternyata adalah seorang perokok? Saya membayangkan begitu banyaknya penerus generasi bangsa ini yang menjadi budak rokok.

Sebenarnya masih ada fakta-fakta lain tentang perokok yang mengejutkan saya… Tapi saya rasa cukup segini yang saya share. Memperhatikan perilaku perokok, saya menyimpulkan beberapa hal:

  • Perokok biasanya berteman baik dengan sesama perokok. Ini memang tidak mutlak, tapi saya melihat biasanya perokok menggerombol dengan sesama perokok. Ketika makan di kantin pun, mereka selalu bersama duduk di satu meja dan merokok bersama. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Tidak jarang orang yang mencoba rokok karena ajakan temannya, yang sebenarnya itu adalah menjerumuskannya! Sekali masuk ke dunia rokok, akan sangat sulit melepaskannya…
  • Perokok cenderung egois. Yang saya maksud di sini, mereka biasanya merokok di tempat-tempat umum tanpa memperhatikan efeknya untuk orang-orang di sekitarnya (yang tidak merokok). “Yang penting gw puas merokok, yang lain mau sakit sih bodo amat…
  • Perokok cenderung melampiaskan masalah dengan merokok. Bete dikit, merokok… Pusing dikit, merokok… Ada masalah, merokok… Stress, merokok… Dan yang saya heran, sehabis makan biasanya mereka merokok. Rokok itu sudah seperti dessert aja!?
  • Perokok cenderung untuk menjadi perokok seumur hidup. Mereka menjadi budak rokok dan tidak menyadarinya. Dibutuhkan kemauan yang sangat keras untuk berhenti merokok (saya sendiri menemukan orang yang bisa berhenti merokok dan saya salut kepadanya!). Sayangnya, sedikit orang yang menyadari pengaruh buruk rokok (yang sangat banyak itu…).

Sudah ah, panjang banget nih postingan… hehe. Buat para perokok, andaikan kalian ditodong. Terus penodongnya ngomong gini, “Stop merokok SEKARANG atau nyawa melayang SEKARANG“. Mana yang kalian pilih? 😉

Iklan

Tag:, , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

18 responses to “Pengemis Pun Merokok!”

  1. Refly Hadiwijaya says :

    Buat para perokok, andaikan kalian ditodong. Terus penodongnya ngomong gini, “Stop merokok SEKARANG atau nyawa melayang SEKARANG“.
    =============================================

    Klo gw perokok, gw jawab sama yg nodong: “Mau rokok juga pak..?”

    Untungnya gw bukan perokok 😀

    [Joke mode: OFF]
    Memang ironis…
    Pengemis merokok…?!?
    Nenek2 merokok..?!?
    hhhh…
    Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yg mereka perbuat (Merusak tubuh sendiri)…. Amin!

  2. Teddy says :

    Di kereta, saya pernah liat pengemis menipu buat dapet sebatang rokok. Dia bawa puntung rokok yang udah pendek(mungkin udah abis), posisinya di pintu. Trus dengan dia minta korek sama orang di sebelahnya dengan bahasa tubuh (saya mengintepretasikan: “pinjem korek dong”), orang itu memberi pinjaman koreknya(mungkin pikirnya cuma pinjemin korek ini). Lalu setelah dapet koreknya pengemis itu kembali dengan bahasa tubuh (saya mengintepretasikan: “rokok gw tinggal dikit nih, bagi rokok lo donk”). Akhirnya orang itu memberikan sebatang rokok ke pengemis itu, lalu dengan tergessa-gesa pengemis itu langsung menghisap rokok tersebut. Ckckckck…chanek!

  3. anwarchandra says :

    anak pra-remaja ingin mencoba rokok. stres gara-gara belajar katanya.
    pas jadi pengangguran, pengen berhenti merokok, tapi ga bisa.
    akhirnya ngajarin temennya ngerokok supaya bisa minta rokok.

    waktu masih pra-remaja, ngisep rokok, dikasih tepuk tangan sama orang-orang.
    pas udah gede, nggak ngisep rokok, dikasih tepuk tangan sama orang-orang.

  4. anwarchandra says :

    kok komentar gw udah kayak iklan layanan masyarakat yak?

  5. nita says :

    merokok sudah tak sepopuler dulu lagi, apalagi di negara2 maju, ruang gerak perokok makin sempit. selain rokok, banyak hal lain yg terlihat sepele yg juga bisa buat orang jadi addicted, misalnya konsumsi berlebihan makanan. hasilnya ya obesitas dan segala macam penyakit degeneratif, malah korbannya lebih banyak dibanding perokok

  6. agungfirmansyah says :

    Yuks kurangi rokok…..!
    Bagi yang belum ngrokok, mending kata-kata ini diubah jadi “tidak merokok”.
    Bagi yang udah, mari kurangi rokoknya. 😀
    Sayangi dan hormati orang-orang sekitar kita. 😀

  7. fenfen says :

    jangankan merokok… pengemis naek taksipun banyak kok 😀

  8. sluman slumun slamet says :

    merokok itu…
    1. menyumbang pendapatan negara
    2. membuat masyarakat bisa menonton serie a dan epl
    3. menghidupkan sektor informal
    4. mensejahterakan petani
    5. mensejahterakan peneliti obat, dokter dan paramedis
    …..
    pissss :d

  9. Refly Hadiwijaya says :

    @sluman slumun slamet
    tambahan:
    5. mensejahterakan peneliti obat, dokter dan paramedis (artinya, perokok membuat peneliti obat, dokter dan paramedis lebih banyak kerja :mrgreen: )
    6. merusak tubuh
    7. menyebabkan kanker, penyakit paru2, impotensi, gangguan kehamilan dan janin, dll (yg ada di pesan iklan rokok, dan klo ga salah ditulis juga di bungkus rokok)
    8. yg paling parah, merokok membahayakan orang lain di sekitarnya (perokok pasif)

    pisss jg…. 😀

  10. Christian Music says :

    Hi Christ.
    Tulisan yang bagus negh… Tapi saya mau menganggapi beberap bagian tentang rokok. Seperti yang anda sebutkan. Hanya sebuah apresiasi dari tulisan Anda koq. Just check this out!

    Perokok biasanya berteman baik dengan sesama perokok. Ini memang tidak mutlak, tapi saya melihat biasanya perokok menggerombol dengan sesama perokok.

    Nggak ahh… tergantung lingkungan yang anda liat yang bagaimana dulu sekarang . 🙂 Saya merokok, dan semua teman saya yang merokok dan tidak merokok tetap dekat dengan sayah.

    “Yang penting gw puas merokok, yang lain mau sakit sih bodo amat…“

    perokok yang mana ?? jangan mensuperlatifkan objek dong 😀

    Bete dikit, merokok… Pusing dikit, merokok… Ada masalah, merokok… Stress, merokok… Dan yang saya heran, sehabis makan biasanya mereka merokok. Rokok itu sudah seperti dessert aja!?

    Yup, nikotin dan asap kadang membuat saya tetap calm dan tenang 😀 dan kalau masalah desert gak juga. balik lagi masalah tenang itu. Di wc juga biar tenang pake “itu”

    Anyway, merokok dan tidak itu pilihan. Walau saya sadar itu jelek. Tapi ketika saya memilih merokok itu privacy saya kan ? Dan tulisan Anda. Sungguh membuat sayah sadar, dan balik merokok. Karena orang yang tidak merokok juga cuman melihat sisi buruk seorang perokok.
    Hehehe… No offense yahh…
    Dan salam kenal dari Medan.

    *salam

  11. kamal87 says :

    tau tuh ya, pantesan aja tu pengemis gak kaya2, udah miskin, memiskinkan dirinya juga 🙂

  12. _on says :

    rajin banget ngitungin puntung rokok XD XD ehehehe..

    pengemis ngrokok?? udah sering..
    makanya skrg jadi males banget ngliat pengemis yg mintanya maksa, udah gtu sambil ngrokok pula..

  13. Charles says :

    @Refly Hadiwijaya:
    Joke mode-nya kapan on, tiba2 off, hehe… Merusak tubuh sendiri dan orang lain… –”

    @Teddy:
    Ckck, baru tau ternyata ada juga pengemis yang ngemis rokok….

    @anwarchandra:
    Iklan layanan masyarakatnya bagus juga… 😀

    @nita:
    betul… kita juga perlu mewaspadai hal itu. Tapi untuk negara berkembang seperti Indonesia, menurut saya rokok masih lebih mengkhawatirkan. Kenapa? Liat aja dari persentase jumlah perokok di Indonesia… Ditambah lagi, pemerintah mengalami dilema, di satu sisi ingin memberantas rokok (karena jelas merugikan kesehatan), di sisi lain rokok jadi pemasukan yang besar buat pemerintah lewat pajaknya…

    @agungfirmansyah:
    Setuju… 😀

    @fenfen:
    Itu mah pengemis gadungan namanya, hehe…

    @sluman slumun slamet & Refly Hadiwijaya:
    Setuju 2-2nya deh… Itu maksudnya saya bilang pemerintah mengalami dilema… pro atau kontra dengan rokok ini. Kalau saya sih uda jelas kontra, abis pertandingan big match premier league-nya uda ga gratis lagi… :mrgreen:

    @Christian Music:
    Saya tidak mengeneralisasi semua perokok seperti itu sih… Perokok memang mungkin saja punya teman baik yang tidak merokok, tapi asal jangan merokok di depan dia aja, kesian kan… Yah, itulah makanya kenapa saya bilang perokok itu adalah budak rokok… Buktinya, meskipun uda jelas-jelas merugikan dan menghasilkan kesenangan semu (kayak dosa), tapi ga bisa lepas kan? Merokok atau tidak adalah pilihan. Perokok punya hak untuk merokok, tapi ingat juga orang yang tidak merokok punya hak untuk menghirup udara segar, so yah beretikalah ketika merokok… piss 😀

    @kamal87:
    Emang tuh, bingung deh ada pengemis kaya gitu… ==”

    @_on:
    haha, saking banyaknya tuh puntung ampe bikin penasaran, jadi diitungin deh… 😛 sekarang saya jadi males ngasi duit ke pengemis… banter2 kasi makanan aja. Emang lebih repot sih…

  14. zahra says :

    iya les gw setuju banget sama lo, lebih-lebih abis tau kasus base di makassar yang ternyata suaminya tukang becak yg ngerokok. fufufu..

  15. Charles says :

    @zahra:
    Kasus apa tuh ya? tanya mbah google ah… hehe

  16. zahra says :

    hehe, iya, yang ibu (lagi hamil) sama anaknya mati gara-gara kekurangan gizi beberapa bulan yang lalu.. gicu..

  17. Charles says :

    @zahra:
    Oh gitu… Wah, tragisnya… 😥

  18. waterbomm says :

    ampun pak, saya tidak merokok pak!!! suer deh 😀 untung saya tidak merokok 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: