t*i – Seolah kata biasa

Saat ini, saya suka mendengar orang-orang (bahkan teman-teman saya) mengucapkan kata-kata yang bersifat makian, negatif, dan tidak membangun, yang membuat saya sendiri risih mendengarnya. Kata-kata itu antara lain (dengan sensor :P):

  • t*iΒ 
  • m*ny*t
  • a*ji*g
  • sh*t
  • sia*
  • sia**n
  • a*j*it

Biasanya, mereka mengucapkan kata-kata itu ketika mereka sedang kesal dan terkejut. Tapi, tidak jarang juga mereka yang sudah terbiasa menggunakan kata-kata di atas di dalam percakapan mereka sehari-hari.

Kalau diperhatikan, kata-kata di atas mempunyai kesamaan. Semuanya bernada negatif dan bernada makian. Pada awalnya, orang-orang hanya menggunakan kata-kata itu di saat mereka sedang sangat kesal dengan seseorang, hingga mereka memaki orang tersebut dengan kata-kata di atas. Tapi, saat ini, kata-kata itu seolah kata biasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang latah mengucapkan kata-kata di atas.

Apa sih salahnya kita mengucapkan kata-kata di atas? Menurut saya, ini adalah pengaruh buruk yang terjadi jika kita mengucapkan kata-kata tersebut:

  • Melukai hati orang lain (yang dituju). Mungkin awalnya kata-kata ini diucapkan untuk menyinggung orang lain, dan kita tahu kalau itu tidak baik. Ingat, luka yang ada di dalam hati seseorang tidak akan dapat pulih sepenuhnya.
  • Menandakan kita tidak dapat mengontrol diri/emosi. Jika kita bisa mengontrol diri/emosi kita, tentulah kata-kata di atas tidak akan keluar.
  • Membawa aura negatif bagi orang yang mendengarnya. Kalau tentang hal ini, saya sudah merasakannya. Saya benar-benar tidak nyaman ketika mendengar orang berkata hal-hal itu, apalagi yang kebiasaan mengucapkan hal-hal itu.
  • Bisa menjadi kebiasaan buruk. Yah, mungkin awalnya kita hanya sekali-sekali mengucapkan kata-kata tersebut. Tetapi, itu bisa membuat kita terbiasa akan kata-kata tersebut, dan bukan tidak mungkin kita bisa menjadi latah mengucapkannya.
  • Membawa aura negatif bagi pengucapnya. Ternyata, bukan hanya orang-orang di sekitarnya saja yang bisa terpengaruh. Tapi, orang yang mengucapkannya pun dapat terpengaruh dengan pengaruh negatif kata-kata itu.

So, dibandingkan kita mengucapkan kata-kata negatif itu, bukankah lebih baik kita mengucapkan kata-kata yang positif, dan lebih mensyukuri apa yang ada pada kita? Efek baiknya bukan hanya untuk kita saja, tapi juga untuk sekitar kita. Yuk, kita coba… πŸ˜€

Catatan: Yang saya maksud dengan “mengucapkan kata-kata tersebut” adalah mengucapkan kata-kata tersebut tidak pada tempatnya.

~Saya juga prihatin dengan orang-orang di luar sana, yang kalau terkejut mengucapkan “Jesus” (bahkan sudah jadi latah). Betapa rendahnya nama “Jesus” diterjemahkan menjadi “astaga” di film-film! Sebuah penghinaan besar. Dan yang membuat saya lebih prihatin, orang-orang yang mengucapkannya rata-rata adalah orang yang mengaku dirinya Kristen…

Iklan

Tag:, , , , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

19 responses to “t*i – Seolah kata biasa”

  1. Ricky says :

    Hm…
    C*a*ek!
    Wah kalo kata yg satu ini, gimana Char?
    Bahkan bagi orang2 yg mengenal kata ini sudah terbiasa mengucapkannya dan beberapa artinya negatif. Walaupun gitu, kalo yg ngerti denger jd…

    Beberapa contoh penggunaan kata itu:
    – Wah tugasnya c*a*ek nih!
    – Mau c*a*ek di FIB?
    – Si c*a*ek mana?
    – Salam C*a*ek!

  2. kamal says :

    iya tuh, kadang gw juga suka sebel orang2 ngeluarin kata2 kek gitu enteng bgt. ngomongnya keras2 lagi. bahkan ada cewek juga yg ngomong kek gitu. ya ampuunn…

    wahai kalian yg suka pake kata2 kasar, berubahlah…

    @ricky: c*a*ek apaan sih???

  3. _on says :

    paling ga suka klo ada yg kesel trus memaki temennya pake nama hewan.. a*j*ng, b*b*, m*ny*t, k*mb*ng, dsb..
    gyaaaahhh.. kita kan manusia.. masa disamain ama hewan??
    ga terima..

    c*a*ek?? apaan tu?

  4. Dimas says :

    capek bukan? hihihi…
    setuju… memang terlalu banyak mengumpat itu gak baik πŸ˜€

  5. agungfirmansyah says :

    klo di tempat sy tumbuh dan berkembang…
    kata2 kaya gitu g kerasa aneh.
    Kasar memang, tp katanya itu menunjukkan kedekatan.

    Sy juga g enak ngedengerin umpatan kaya gitu.

  6. Ricky says :

    c*a*ek itu chanek
    Kata yg satu ini bisa sebagai kata sifat, kata kerja, atau kata benda.
    Aslinya dari bahasa Inggris, bukan begitu Char?
    Nah Charles ini yg menggagaskan kata c*a*ek waktu kuliah grafkom…
    Waktu pertama kali denger jadi ketawa… lucu…
    Tapi lama2 jadi biasa aja..

  7. Charles says :

    @Ricky & semua yang mau tau tentang chanek:

    Wah, kok jadi promosi kata chanek? hehe… Buat yang ga tau (pasti banyak banget yang ga tau, haha…), asal usul munculnya kata itu adalah saat kuliah grafika komputer (grafkom, buat yang lagi ngambil nanti pasti tau… :P). Waktu itu, dosennya mengajarkan sebuah kurva yang bernama kurva “Kochanek-Bartels”.

    Terus… gw nyeletuk, “Wah, kochanek…”. Waktu itu, tiba-tiba jadi kata itu terdengar seperti “Wah, kok chanek???”. Berhubung kurva itu sangat njelimet dan sulit dipahami, jadi terpikirlah sebuah makna “chanek”. Kurang lebih, makna awalnya “kok chanek” itu seperti “kok gitu ya, apaan tuh?” πŸ˜›

    Seiring berjalannya waktu, chanek jadi sebuah kata tersendiri yang sering digunakan untuk mengungkapkan sesuatu kata sifat positif dan negatif. (Emang aneh nih, gw juga bingung kok bisa gitu, haha).

    Contoh penggunaan kata chanek dan terjemahannya:

    Sehabis ujian: “kok soalnya chanek sih?”
    –> arti: “kok soalnya aneh sih?”

    Pas deadline tugas: “Chanek! Gw ketiduran!”
    –> arti: “Tidak! Gw ketiduran!”

    Pas mau makan siang: “Chanek di FIB yuk…”
    –> arti: “Makan di FIB yuk…”

    Pas ngeliat output program aneh: “Chanek! Kok gini?”
    –> arti: “Lah, kok gini yah? Aneh…”

    Pas lagi stres: “Salam chanek”
    –> arti: “Semoga sukses…” (bener ga ya terjemahannya gini? :P)

    Pas ketemu soal gampang: “Kok soalnya chanek ya?”
    –> arti: “Kok soalnya gampang banget ya?”

    intinya, aneh deh… Itu kata pertama yang gw definisikan sepanjang hidup gw, dan definisinya aneh juga. haha… bisa berupa kata sifat (aneh, jelek, gampang, susah, stres), bisa berupa kata kerja (makan –> didefinisikan pas bulan puasa kemarin :P), bisa juga berupa kata benda…

    Overall, menurut gw, chanek itu bukan umpatan. Kalau sesuatu yang negatif? Yah, kalau yang ini relatif… Kata “jelek” itu juga negatif kan, tapi kita menggunakannya… Bedanya dengan kata-kata t*i, a*j*ng, dll itu adalah penggunaan kata itu tidak pada tempatnya. Sedangkan, chanek itu adalah kosakata baru yang hanya digunakan oleh beberapa orang (dimulai dari gw… :P) dan maknanya bisa beragam, dari positif sampai negatif.

    Ah, cape juga bahas tentang chanek.

    ~Salam chanek… πŸ˜›

  8. Charles says :

    @kamal:

    Iya, gw juga risih dengernya… Apalagi yang latah-latah dan gampang banget ngeluarinnya…

  9. Charles says :

    @_on:

    Tapi sebenarnya, suka ga suka, mereka yang menyebut kita begitu sedang menyamakan kita dengan hewan… Mereka tahu ga ya, kalau orang sering-sering dikatain gitu, lama-lama bisa muncul “mental hewan”-nya, jadi ngerasa kaya hewan gitu…

    Gw jg ga terima kalo ada yang ngatain gw gitu. Dengan ngatain gw gitu, berarti secara tak langsung mereka juga sedang menghina dirinya sendiri. Kan kita semua satu species… Homo sapiens. Ada yang berspecies lain? πŸ˜›

  10. Charles says :

    @Dimas:

    Yup, mari kita kurangi umpatan-umpatan kita… Bahkan sebisa mungkin, hilangkan sama sekali… πŸ˜€

    ~bukan capek, tapi chanek… πŸ˜›

  11. Charles says :

    @agungfirmansyah:

    Kalo menurut gw, bahayanya orang yang “dikata-katain” tapi ga berasa dikata-katain adalah mereka sudah menerima “kata-kata” dari orang itu.

    Contoh: jika si A dikatain: “a*j*ng lo…”, dan si A ga berasa dikata-katain, artinya secara ga sadar si A sudah menerima kalau dirinya setara dengan a*j*ng… Sungguh kasihan si A ini…

    Mungkin ini membuat mereka dekat, tapi secara tak langsung mereka sedang menurunkan “martabat” mereka, dan inilah yang tidak mereka sadari… 😦

  12. Um Ibrahim says :

    Salaam Chanek…*maksudnya salam kenal*

    Semua orang punya kekurangan dan kelebihan, tapi paling males deh bergaul sama orang yg suka mengumpat, gak tau bawaannya jd gak nyaman, alias aura jadi kelam πŸ˜‰

  13. Charles says :

    @Um Ibrahim:

    Hehe… satu definisi lagi untuk istilah chanek: “salam kenal” πŸ™‚

    Betul, mengumpat itu sebenarnya seperti mengutuk, dan jelas aja bikin aura ga nyaman/kelam…

    ~btw, salam kenal juga… πŸ˜€

  14. realylife says :

    saya setuju banget , mari kita mulai belajar lagi adat dan sopan santun ketimuran , menghargai keyakinan yang kita yakini

  15. Charles says :

    @realylife:

    Setuju… πŸ˜€

  16. Sidicx says :

    Charles…lucu juga kata yang lo definisiin sendiri itu, hehe…

    Ati” lo, penyakit ngomong kasar bisa menular…

  17. Charles says :

    @Sidicx:

    haha… chanek ya? πŸ˜›

    iya nih, kalo ngomong sopan justru susah nularinnya ya… Makanya sidicx bantuin nularin ya… πŸ˜€

  18. anthonysteven says :

    waduh g sendiri kadang suka ngomong yang a*j*it, gawat, bukan contoh yang baik ya… 😦

    Ya, sekarang ini makin berusaha mengendalikan diri deh. πŸ™‚

  19. Charles says :

    @anthonysteven:

    Penguasaan diri salah satu dari buah roh loh, to… Kalo uda kebiasaan emang susah si, tapi pasti bisa berubah kok. Amin. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: