Ketika sampah pun dimakan mereka

Sore ini, seperti biasa setiap minggunya, saya pulang dari tempat kuliah saya di Depok ke rumah saya di Jakarta. Dan seperti biasa juga, saya memanfaatkan jasa kereta api untuk mengantarkan saya dari Depok ke Jakarta. Perjalanan pulang saya diawali dengan sesuatu yang kurang enak, yaitu hujan badai… Saya harus melewati hujan badai sepanjang perjalanan dari kos saya sampai ke stasiun, yang membuat saya cukup basah kuyup. Tapi, bukan hal itu yang menjadi inti tulisan saya kali ini…

Dengan kereta ekonomi AC, saya mulai perjalanan pulang saya dari Depok sampai Jakarta… Kejadian itu terjadi di Stasiun Manggarai. Ketika pintu terbuka, saya melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh sedang mengais tempat sampah. Saya melihat betapa senangnya dia ketika menemukan bekas minuman kemasan yang telah dibuang orang. Tanpa ragu lagi, dia menyedot sedotan yang ada, meskipun saya meragukan masih ada isinya. Tapi, bagi dia, setiap tetes adalah berarti… Setiap butir nasi, juga setiap bagian kecil makanan dan minuman adalah berarti. Bahkan, makanan dan minuman yang ada di tempat sampah…

Melihat hal ini, saya mengambil beberapa hikmah. Pertama, saya sungguh prihatin dengan keadaan bangsa ini, dimana masih banyak penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang bahkan untuk menikmati sesuap nasi dan seteguk minuman harus mencarinya di tempat sampah… Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka? Di satu sisi, saya prihatin akan keadaan mereka yang tertatih-tatih dalam mencukupkan pangan mereka, tapi di sisi lain, tidak sedikit anak jalanan yang sudah susah mencari makan, masih merokok pula… Oleh karena itu, saya biasanya kurang suka memberikan uang pada mereka. Cita-cita saya (yang masih belum tercapai seluruhnya) adalah memberikan kebutuhan (seperti makanan) mereka, dan perhatian kepada mereka. Saya tahu ini sangat sulit, tapi saya mencoba untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada.

Kedua, saya mengaplikasikannya pada diri saya sendiri. Saya menjadi sangat bersyukur karena saya merasakan cukup atas kebutuhan pangan. Rasa syukur itulah yang membuat saya berdoa kepada Tuhan yang telah memberikan makanan itu kepada saya. Juga, di dalam doa saya, saya senantiasa meminta Tuhan untuk memelihara kehidupan mereka yang tidak seberuntung saya di dalam mendapatkan makanan.

Aplikasi lainnya adalah jangan membuang makanan yang ada, dan jangan makan berlebihan. Dulu, saya sering mendengar perkataan, “Kalau nasinya dibuang, pak tani nangis loh…”. Perkataan itu memang benar, petani sudah bersusah payah menanam padi untuk kita, dan terlebih lagi, sangatlah tidak baik jika kita membuang makanan, di saat masih banyak orang yang membutuhkan makanan tersebut. Jika kita hanya kuat makan setengah porsi dan memiliki rejeki untuk membeli satu porsi, bukankah lebih baik kita bagi dua makanan tersebut, dan kita berikan setengahnya kepada orang yang lebih membutuhkan. Tentu itu akan lebih baik daripada mereka harus mengais makanan yang telah kita buang ke dalam tempat sampah.

Jadi, dari kejadian beberapa detik itu (saat pintu kereta dibuka di stasiun Manggarai), kita dapat belajar untuk:

  • Memberi semampu kita kepada mereka yang benar-benar membutuhkan (dan berilah dengan hati yang tulus, jangan mengharapkan imbalan).
  • Bersyukur atas makanan yang tersedia bagi kita, baik kita suka maupun tidak. Ingatlah kalau kita masih lebih beruntung dari mereka yang harus mencari makanannya di tempat sampah.
  • Membiasakan diri untuk tidak makan berlebihan, dan menghabiskan makanan yang telah tersedia. Pesanlah/ambillah makanan sesuai dengan porsi yang kita rasakan cukup untuk kita. 😀
Iklan

Tag:, , , , , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

15 responses to “Ketika sampah pun dimakan mereka”

  1. yud1 says :

    Membiasakan diri untuk tidak makan berlebihan, dan menghabiskan makanan yang telah tersedia. Pesanlah/ambillah makanan sesuai dengan porsi yang kita rasakan cukup untuk kita. 😀

    this, is a nice-and-sharp point you have there. 😀

    saya kadang-kadang miris, kalau lihat di kantin banyak orang-orang makan dan ninggalin sisa makanan yang sebenarnya masih banyak. misalnya sayur yang sama sekali nggak disentuh, atau nasi yang nggak habis.

    bukankah lebih baik pesan ‘jangan pakai sayur’ atau ‘nasi setengah aja’? entahlah. tanya kenapa, kenapa tanya. 🙄

    ~banyak orang nggak sadar
    ~betapa beruntungnya mereka

  2. Charles says :

    @yud1:

    Iya… yang membuat saya miris juga kalau di kondangan-kondangan, ada yang ngambil banyak2, dan hanya dimakan sedikit-sedikit, lalu sisanya dibuang begitu saja. Saya mencoba berpikir, kalau makanan-makanan itu dikumpulkan semua, berapa banyak rakyat Indonesia yang dapat terbantu…

    ~btw, sebenarnya ini juga adalah bagian dari manajemen loh. Manajemen perut… :mrgreen: Mari kita belajar dari hal-hal yang kecil… 😀

  3. _on says :

    ud cukup sering sih ngliat kejadian kek gtu.. dan kembali diingatkan untuk makan secukupnya.. klo takutnya ga abis klo pesen satu porsi, mending pesen stngah porsi.. klo masi kurang ya beli lagi^^ ehehehe..

  4. Charles says :

    @_on:

    Kebiasaan yang baik tuh, von… 😀

  5. lakidtonk says :

    masih mending mengais sampah, daripada membiarkan diri mati kelaparan tanpa ada usaha..
    kalo saya sukanya nangkring di dapur gedung pertemuan
    kalo lagi ada acara seminar ato acara apapun pasti banyak makanan sisa

  6. aRuL says :

    okeh sama2 bergerak…

  7. Charles says :

    @lakidtonk:

    Betul, yang penting ada usaha. Saya lebih menghargai mereka yang berusaha daripada yang hanya duduk diam. Makanya, saya lebih suka memberi kepada mereka yang berusaha (mengamen, mengumpulkan sampah, dll) daripada yang hanya mengemis saja.

  8. Charles says :

    @aRuL:

    oce deh… 😀

  9. CY says :

    Tapi kalo tidak ada mereka2 yg membuang makanannya ke tong sampah berarti anak2 yg mengais2 itu ga dapet apa2 dong, dan bakal kelaparan terus?? Maaf, bukan mendukung buang makanan sih, cuman bingung aja dgn dilema spt itu. Atau mungkin sengaja di ciptakan org2 yg suka buang makanan sisa supaya anak2 melarat itu bisa dapet makan??

  10. Charles says :

    @CY:

    Kan alangkah baiknya kalau kita memberikan “makanan yang akan kita buang ke tempat sampah” ke mereka yang memerlukan. Jadi, tidak perlu numpang di tong sampah dulu. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa mereka sampai mencarinya ke tong sampah? Jika ada orang yang membantu mereka, mungkinkah mereka akan mencari makanan di tong sampah? Tentunya mereka juga ingin makan makanan yang bersih kan setidaknya…

    ~Thinking in the positive way… :mrgreen:

  11. CY says :

    Memang kita harus “thinking in the positive way”, tapi juga harus menyadari realita kalo org2 yg hobi membuang makanan ternyata berkali lipat lebih banyak dari yg mau lsg memberi makanan mrk kepada yg miskin dan melarat. Dan utk mencegah itu saya rasa harus dgn dipaksa, memberlakukan perda misalnya hihihi… 🙂

  12. Charles says :

    @CY:

    Hehehe… Perda dilarang merokok uda keluar… Ga mustahil ada perda yang mengatur perut orang, haha…

    Kalo soal peraturan sih, kalau di restoran “all you can eat” biasanya uda menerapkan peraturan untuk membayar makanan yang tidak dihabiskan. Kalau restoran2 lain juga bisa menerapkan peraturan itu (denda buat makanan yang ga dihabisin), dijamin org mikir2 deh buat buang makanan…

  13. fiksirealita says :

    Suatu refleksi yang indah….
    Terima kasih telah mengingatkan

  14. Charles says :

    @fiksirealita:

    Sama2… 😀

Trackbacks / Pingbacks

  1. Jalinan Tali Kasih « Atap Senja - 21 Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: