Selamat Berjuang, Temanku

Tulisan ini saya buat untuk seorang teman sefakultas saya yang tengah berjuang menghadapi kerasnya (atau busuknya?) hukum di Indonesia.

Kisahnya dapat dilihat di sini

Kabar terakhirnya dapat dilihat di sini

Melalui hal ini saya belajar bahwa:

  1. Betapa besarnya hal yang harus dibayar untuk sebuah kelalaian (bukan hanya yang harus dibayar teman saya, tetapi juga yang harus dibayar korban). Mengingatkan betapa pentingnya untuk senantiasa berhati-hati.
  2. Betapa busuknya hukum di negeri ini. Betapa semua hal di negeri ini telah diukur oleh UANG. Seperti peribahasa berkata, “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang”. Bahkan saat ini, keadilan pun bisa dibeli dengan uang! Seolah-olah siapa yang memiliki uang paling banyak, dialah yang paling berkuasa. Benarkah uang dapat memberikan segala-galanya? Untuk kebahagiaan sementara mungkin ya, tetapi tidak untuk kebahagiaan kekal.
  3. Betapa sulitnya pengampunan itu. Di satu sisi mungkin kita sudah mengatakan kalau kita telah mengampuni, namun di sisi lain sebenarnya kita belum tulus mengampuninya. Bagaimana cara kita dapat mengampuni dengan tulus? Menurut saya, berkacalah dari dosa yang telah kita perbuat di hadapan Allah, dan bagaimana Allah telah mengampuni kita. Bagaimana mungkin kita tidak mengampuni sesama kita bukan?
  4. Betapa saya masih kurang mensyukuri hal-hal kecil yang ada di dalam hidup saya. Kebebasan adalah sebuah hal kecil, namun hal itu menjadi berharga ketika kita berada pada posisi tidak bebas. Kadangkala kita mensyukuri suatu hal justru ketika hal itu sudah diambil dari kita. Perlukah kita sakit untuk mensyukuri kesehatan? Jangan sampai dong ya…
  5. Betapa saya seharusnya bersyukur mempunyai sahabat-sahabat yang menyayangi saya, yang setia bersama saya di kala suka dan duka. Dan betapa pentingnya bersahabat dengan orang lain. Sahabatlah yang akan senantiasa mendukung kita dan menguatkan kita di saat kita susah, dan tertawa bersama kita di saat kita senang.

Untuk temanku Ipur,

Mungkin saya tidak pernah membantu Ipur. Bahkan saya juga tidak dapat hadir di pengadilan Senin besok. Namun, saya selalu mendukung Ipur. Bagaimanapun juga, Ipur adalah teman saya (malah sekelompok PPL yah? Masalah PPL jangan terlalu dipusingin dulu pur, fokuskan untuk hal ini dulu aja…). Saya akan terus mendoakan Ipur agar bisa mencapai jalan tengah dengan korban, dan agar Ipur bisa tetap berada di tengah-tengah kami, CSUI 05. Selamat berjuang, Pur… Mari hadapi masalah ini dan pengadilan yang “tidak beres” di negeri ini dengan kasih. Dan ingatlah juga, kalau Ipur tidak berjuang sendiri…

~btw, kalau ada teman-teman yang ingin datang ke pengadilan Ipur Senin depan, bisa lihat alamatnya di sini.

Iklan

Tag:, , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

One response to “Selamat Berjuang, Temanku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: