Ketika Mahal Terlihat Murah

Saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini setelah membaca postingan “Ilusi Finansial” di sini. Di sana digambarkan bagaimana konsumer “ditipu” tanpa merasakan kalau dirinya tertipu. Saya jadi mengingat tentang suatu bentuk “ilusi finansial” lainnya yang saya temui di sekitar saya.

Tempatnya di bioskop 21… Di dalamnya ada counter yang menjual makanan dan minuman (yang sebenarnya dijual dengan harga yang sangat mahal). Sebagai contoh, harga aqua botol di tempat ini dijual dengan harga Rp 8000, dan Pepsi (dengan ukuran besar) dijual dengan harga Rp 10000. Kalau boleh dikata, harga Pepsi itu sudah sangatlah mahal, tapi harga itu seolah terlihat “murah” oleh para pembeli ketika mereka membandingkannya dengan harga Aqua. “Yah, cuma tambah 2000, bisa dapet yang jauh lebih besar dan enak,” mungkin begitu batin mereka.

Tidak hanya di bioskop 21, saya juga menjumpai hal-hal serupa di berbagai tempat (contoh: “beli burger ukuran kecil Rp 10000, tambah 2000 dapet ukuran jumbo”). Cara-cara demikian secara tidak sadar seakan “menghipnotis” pembeli dan membuat pembeli percaya kalau harga “yang jumbo” memang murah (toh hanya beda dikit sama yang ukuran kecil?), padahal nyatanya harga yang ukuran kecillah yang melambung sangat tinggi, dan untuk yang ukuran jumbo, penjual hanya mengurangi sedikit keuntungannya untuk “menghipnotis” pembeli.

Dalam hal ini, penjual dapat mengambil keuntungan ganda. Di satu sisi, produk “jumbo”-nya akan menjadi laku karena pembeli merasakan harga yang ditawarkan adalah murah, di sisi lain, jika ada pembeli yang membeli produk “biasa”, pembeli akan mendapatkan keuntungan berlipat.

Menurut saya, itu adalah salah satu bentuk dari ilusi finansial. Sesuatu yang mahal, dikemas dengan suatu cara promosi yang sangat baik, dapat membuat pembeli seolah melihat itu adalah sesuatu yang murah. Kenyataannya? Mereka (para pembeli) hanya mengurangi kerugian mereka saja (tapi tetap rugi besar), atau para penjual hanya mengurangi keuntungan mereka saja (tapi tetap untung besar)…

Baikkah “ilusi finansial” itu? Mungkin itu dapat memuaskan penjual dan pembeli (selama pembeli tidak tahu bahwa itu adalah ilusi finansial).

~Bagaimana pendapat pembaca? πŸ˜‰

Iklan

Tag:, ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

14 responses to “Ketika Mahal Terlihat Murah”

  1. kamal87 says :

    sama kayak xl ya, yg naro iklan gede2 0.1/detik padahal nipu bgt

  2. Charles says :

    @kamal87

    Iya, kebanyakan operator suka promosi dengan kurang jujur, dengan dalih “term and condition”. Bahkan ada yang berani claim Rp 0… Dapat menipu pelanggan yang ga tau. Dikira murah, ternyata mahal…

    ~Hm, rencananya nanti gw mau menulis tentang itu juga. Tunggu aja ya…

  3. zao says :

    klo yg masalah harga minuman di 21,, mendingan beli makanan&minuman dari luar aj XD ehehehe..

    biasanya klo gw ngliat harga ukuran kecil ama ukuran besarnya cuma beda dikit, kadang malah jadi males belinya gara” yg ukuran kecilnya terlalu mahal XD

  4. Charles says :

    @zao

    Iya, kalau ada alternatif yang lain sih lebih baik, jadi ga usa beli. Yang susah kalau mau ga mau harus beli (lagi di restoran contohnya, n ga bawa minum). So, selalu siap sedia biar ga kepaksa beli, hehe…

  5. Refly Hadiwijaya says :

    Ini mungkin berlaku klo ga ada alternatif lain ya. Klo ada alternatif lain yang lebih murah, biasanya orang ga akan tertipu dan beli pilihan alternatif.

    @Kamal87
    Iya, sebagian besar iklan kartu prabayar sekarang emang menipu konsumen yang kurang waspada. πŸ˜€

  6. Bang Ganteng says :

    hmmm, udah pura2 murah, masih dilanjutin dengan peringatan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar, jelas2 pasti aqua, pepsi dan popcorn tentunja gaq dibikin di 21 nya kan, pasti dari luar juga…huh, yang melanggar pertama kali adalah si pembuat aturan sendiri

    hmmm, lalu masalah kartu telepon, terbukti menit pertama gsm 1500 = 1,5 jam make esia…hidup ESIA, wok wok wok

  7. Charles says :

    @Refly
    Iya, makanya usahakan cari alternatif lain dulu yang lebih murah πŸ™‚

    @Bang Ganteng
    Betul, peraturan itu pasti dibuat supaya orang-orang pada beli di dalem 21, tapi harga di dalem 21 sendiri selangit. Seolah-olah yang masuk 21 pasti orang kaya…?

    ~Pada akhirnya, pada banyak yang melanggar. Satpamnya juga jadi biasa aja.

    ~Masalah tarif telepon selular, tunggu aja ulasannya di blog ini… πŸ™‚

  8. anthonysteven says :

    Ilusi finansial itu ada banyak.

    Dan, sumbernya banyak menggunakan teori-teori fallacy, dalam kasus kayak charles ini fallacyyang diambil adalah varian dari “false dilemma.

    Masyarakat harus banyak diedukasi untuk bisa berpikir kritis dan logis.

  9. Charles says :

    @anthonysteven

    Wah, ternyata ini ada teorinya juga ya? hehe. Inget fallacy, jadi inget kuliah Matematika Diskret… πŸ˜›

  10. anthonysteven says :

    @Charles

    Ya intinya false dilemma kan, memberikan pilihan yang terlalu sedikit.

  11. Riq says :

    kalo di 21 biasanya gw malah bawa masuk makanan dari luar and ga pernah di periksa…..
    huahahaha….buat gw itu gampang krn gw punya cewe yg selalu bawa tas segede karung goni……
    tinggal beli hokben, coklat2 sama aqua dr carefour (stok di mobil 1 dus yg isinya 24 botol)
    kalo dah nonton tinggal buang sisa2 makanan hokben di 21 toh ada yg membersihkan…..(para jongos di bayar untuk bersih2)

    tarif Hp ga muluk2 cukup pake XL bebas xtra gratis sms 100 per hari….karena memang sehari2 cuman ber sms doank ke sesama XL, dan esia semalem cuman nelpon 1-2 jam….

    mereka yg perang tarif kita customer yg untung ahiak ahiakkkkk….
    gw suka itu…

  12. Charles says :

    @Riq

    Iya, emang 21 cuma bikin peraturannya aja, pelaksanannya mah.. ya gt deh, hehe. Peraturan dibuat untuk dilanggar?

    Untuk pilihan operator HP, gw juga pake XL n esia, hehe. Sama, karena komunitasnya pada banyak yang pake XL n esia.

    Btw, akhir-akhir ini IM3 mulai “muncul ke permukaan” ya? Huehue, setuju, mereka perang tarif, kita yang untung. Di saat di mana-mana harga pada naik, tarif telepon malah berlomba-lomba turunin harga. Jangan berhenti deh perangnya… πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: