Pasar Berjalan di Kereta

Dear readers…

Hari ini saya ingin menceritakan mengenai pengalaman dan pendapat saya mengenai realita yang ada di kereta api Indonesia (khususnya kereta api ekonomi). Hari ini saya naik kereta api ekonomi dari Stasiun UI menuju Stasiun Jakarta Kota seperti biasanya. Saya sudah sering naik kereta tersebut, dan ada pemandangan yang sebenarnya tidak asing lagi bagi saya… Apakah itu? Itu adalah pasar berjalan di kereta…

Kenapa disebut pasar berjalan di kereta? Karena mereka menjajakan barang jualan mereka di atas kereta untuk para penumpang. Hmm, awalnya saya cukup terkejut melihat betapa banyaknya jenis barang yang dijual di kereta, namun sekarang saya sudah lebih terbiasa. Apa saja sih yang dijual itu? Beberapa di antaranya (yang saya ingat adalah):

  • Jasa: mengamen, menyapu lantai kereta, …
  • Makanan ringan: kerupuk, roti buaya, kacang, tahu, permen, …
  • Buah-buahan: jeruk, salak, buah naga, …
  • Koran: Kompas, Warta Kota, Koran Tempo, Lampu Merah, Non Stop, …
  • Minuman: aqua, frutang, kopi, jelly, green tea, …
  • Aksesoris: anting, jepitan rambut, casing HP, gantungan kunci, …
  • Alat kesehatan: alat pijat refleksi, sandal kesehatan, …
  • ATK: pulpen, isolasi, gunting, laser pointer, amplop, lem, …
  • Buku: Buku mewarnai, RPUL, buku agama, majalah, …
  • Lain-lain: tissue, rokok, lampu meja, tas, racun tikus, lem tikus, pupuk tanaman, stiker, bingkai foto, sarung tangan, keranjang baju, bangku lipat, kipas angin mini, pajangan, mainan, …

Ada lagi yang bisa menambahkan daftar di atas? Saya yakin masih banyak barang-barang lainnya yang belum disebutkan di atas. Tapi bukan list barang-barang di atas yang menjadi inti postingan saya saat ini…

Selama ini kita seringkali melihat Indonesia dari sisi buruknya. Memang, pasar di kereta ini juga mempunyai sisi buruk (seperti menyumbat jalan di kereta, barang yang dijual yang tidak baik – seperti rokok, …), tapi saat ini saya ingin melihat realita ini dari sisi positif. Berikut adalah beberapa hal positif yang saya lihat dari “pasar berjalan di kereta”:

  1. Para pedagang benar-benar memiliki daya juang yang tinggi, orang yang mau berusaha, dan pekerja keras. Betapa sulitnya berdagang di dalam kereta yang padat penumpang dan dengan saingan yang sedemikian banyak.
  2. Sedikit banyak, mereka membantu warga (yang menjadi penumpang) yang kurang mampu, dengan harga barang yang mereka tawarkan relatif murah dan di bawah harga pasar. Kadang saya juga terkejut melihat murahnya harga yang mereka tawarkan untuk barang-barang dagangan mereka.
  3. Tercipta rasa toleransi dan saling membantu di antara para pedagang. Contohnya, tadi saya melihat ada dua orang penjual koran yang saling bertukar koran yang mereka jual (kalo ga salah Warta Kota sama Tempo). Hmm, mungkin ini yang disebut simbiosis mutualisme… 🙂
  4. Memicu rasa kreativitas mereka terhadap barang apa yang akan mereka jual. (Kreativitas yang positif tentunya…). Tak heran banyak barang-barang aneh yang dijajakan.
  5. Kadang para pedagang dapat menghibur penumpang dengan ucapan-ucapan mereka di saat menarik pembeli. Seperti contohnya tadi ada seorang penjual racun tikus menjajakan barangnya dengan berkata, “Maak… racun tikus, maak… Oleh-oleh dari Belanda, maak… Maa, mati kering, maa…”, dan tanpa sadar saya dan orang-orang di sekeliling saya tersenyum melihatnya.

Jika kita melihat segala hal dari segi negatif, itu takkan ada habisnya, dan terkadang akan membuat kita menjadi seorang yang pesimis. Dengan melihat dari segi positif, itu akan dapat memotivasi kita, dan membuat kita percaya kalau bangsa Indonesia ini masih ada sesuatu yang dapat dibanggakan. Terlebih, itu akan membuat kita lebih sukacita dalam menjalani hidup ini.

Satu hal yang sangat saya kagumi dari para pedagang pasar berjalan di kereta ini adalah kegigihan mereka di dalam menjual (dengan cara halal tentunya) dan usaha serta kerja keras mereka. Untung yang mereka terima mungkin tidak banyak, namun mereka dengan setia bekerja dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Itulah sebabnya saya lebih menghargai pedagang-pedagang ini dibandingkan orang yang hanya sekadar meminta saja tanpa usaha (meskipun sebenarnya mereka masih dapat berusaha).

Jika para pedagang itu bisa sedemikian gigih dalam berusaha, sayapun (yang mungkin lebih beruntung dari mereka, dapat kuliah di UI) harus gigih juga di dalam belajar dan bekerja, senantiasa bersyukur dan mengurangi keluhan.

~Do your best, and let God do the rest. 🙂

Iklan

Tag:, , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Kereta oh Kereta… « Charles’ Notes… - 14 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: