Selamat Jalan Pak Harto

Pada hari Minggu kemarin, tanggal 27 Januari 2008, seorang mantan orang nomor 1 di Indonesia, Bapak H. M. Soeharto, telah wafat. Seorang yang penuh kontroversi antara jasanya dan kesalahannya. Saya setuju dengan pendapat beberapa orang untuk memaafkan Pak Harto sebagai seorang pribadi, namun akibat dari kesalahannya juga masih harus dipertanggungjawabkan.

Saat ini, saya ingin mengupas peristiwa ini dari sisi yang lain. Seperti yang kita ketahui, Pak Harto sudah menderita sakit selama beberapa lama, sejak beberapa tahun yang lalu kondisi kesehatannya naik turun. Di saat itu, banyak orang yang secara tidak langsung ataupun langsung “menghujat” Pak Harto, dan sangat sedikit pujian atas jasa beliau yang terdengar. Namun, apa yang kita lihat sesaat setelah Pak Harto wafat? Pujian atas segala jasa Pak Harto kembali didengungkan, dan (hampir) semua orang memuji beliau sebagai orang yang berjasa bagi Indonesia (setidaknya dari berita dan tulisan orang-orang di blog yang dilihat oleh penulis).

Apa yang dapat penulis lihat dari sini? Saya melihat bahwa seringkali kita baru menghargai seseorang, melihat kebaikannya, di saat orang itu sudah tiada. Sesuatu yang sebenarnya sangat disayangkan. Hargailah orang ketika orang tersebut masih ada. Ini bukan artinya kita tidak boleh memberikan penghargaan saat seorang telah wafat, namun alangkah baiknya (dan tentu akan jauh lebih baik) jika penghargaan itu diberikan saat orang itu masih ada. Seorang yang telah wafat tentu takkan dapat menerima penghargaan itu lagi.

Apa yang dapat penulis refleksikan dari hal tersebut? Satu hal yang paling penting, yaitu rasa syukur! Sadar atau tidak, sebagai manusia, kita seringkali lupa bersyukur untuk hal-hal besar yang terlihat kecil. Apa contohnya? Contoh yang paling konkrit adalah hidup ini. Jika kita saat ini masih dapat hidup, itu hanya karena anugerah dari Tuhan, sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Saat bangun di pagi hari, saat kita masih dapat melihat terangnya mentari bersinar, ketika kita masih bisa dengan leluasa berjalan, ketika kita masih bisa menghirup udara yang segar, semuanya itu adalah sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Namun, hal-hal besar itu seolah menjadi kecil karena hal itu sudah biasa. Bagaimana caranya melihat hal itu menjadi hal yang besar kembali? Biasanya, kita menyadarinya ketika itu sudah diambil dari kita. Dan jika saat itu tiba, kita baru dapat menyesali mengapa kita tidak bersyukur dahulu.

So… Syukurilah segala sesuatu ketika itu masih ada. Jangan sampai terlambat untuk bersyukur di saat itu telah tidak ada.

Akhir kata, penulis mengucapkan selamat jalan kepada Pak Harto, orang yang telah sangat berjasa (dan juga menyulitkan) bagi bangsa Indonesia.

Iklan

Tag:,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: