“Orang Jahat” vs “Orang Munafik”

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya belakangan ini. Pertanyaan itu adalah: Manakah yang lebih baik? Menjadi seorang yang benar-benar jahat tanpa topeng, atau menjadi seorang jahat yang memakai topeng orang baik, biasanya bahasa kerennya tuh “orang munafik”?

Seorang teman berkata “Kalau mau jahat, mending jahat sekalian… Dan kalau mau baik, mending jadi baik aja, ga usah jadi setengah-setengah”. Kalimat ini membuat saya berpikir, sungguh indah jika dunia ini bisa dibuat sesederhana itu. Kita tinggal memilih, mau jadi jahat atau mau jadi baik. Namun, ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang yang jahat tidak bisa dengan instan begitu saja menjadi baik 100%. Pasti ada orang yang ada di tengah-tengah. Di satu sisi, dia punya keinginan untuk berbuat baik, dan di sisi lain dia juga sulit meninggalkan dosa yang masih disukainya. Mereka terjebak di tengah-tengah, antara baik dan jahat.

Saya termasuk orang yang setuju bahwa orang yang jahat dan orang yang munafik akan mengalami akhir yang sama-sama tragis, yaitu dicampakkan oleh Allah. Namun, menurut saya, setiap orang harusnya mengalami fase dalam hidupnya di mana dia menjadi “orang jahat”, dan dia menjadi “orang munafik”.

Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Semua orang telah berbuat dosa, atau dengan kata lain, semua orang telah menjadi “orang jahat” di mata Allah.

Syukur kepada Allah, ayat di atas tidak berhenti sampai di sana, tetapi ada kelanjutan yang mencerahkan di Roma 3:24 yang berbunyi: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita, yang adalah “orang jahat” tersebut telah dibenarkan oleh Kristus Yesus. Kita, yang dahulu “tidak bisa TIDAK berbuat dosa”, kini bisa memilih untuk “tidak berbuat dosa”. Namun, apakah itu menjamin kita akan langsung menjadi 100% baik? Ternyata tidak, semuanya membutuhkan proses dan pertumbuhan… Dan dalam semuanya itu, kita harus terus mengandalkan Tuhan.

Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Apakah lebih baik menjadi “seorang jahat” atau “seorang munafik”? Meskipun keduanya sama-sama tidak baik, saya melihat keduanya memiliki sisi positif dan negatif.

Yang paling mudah terlihat adalah sisi negatif dari “seorang jahat”. Itu tentu sudah jelas. Segala hal yang jahat yang dia lakukan dan dia perlihatkan di depan orang banyak adalah hal-hal yang negatif.

Tapi, apa sisi positif dari “seorang jahat”? Menurut saya, sisi positif dari “seorang jahat” adalah, jika Tuhan membukakan hati mereka, mereka yang benar-benar jahat mungkin yang paling mudah untuk bertobat, karena mereka berpikir mereka tidak mempunyai pegangan lagi. Dan, jika mereka akhirnya bertobat, mereka mungkin akan lebih menghargai keselamatan yang diberikan kepada mereka.
Sebagai ilustrasi, anggaplah kita adalah seorang yang sangat kaya dan dermawan. Anggaplah kita ingin membantu dua orang, si A dan si B, yang sama-sama berhutang kepada kita. Kita akan hapuskan hutang mereka dengan syarat mereka menjadi pembantu kita seumur hidupnya. Siapa orang yang akan lebih mudah menerima bantuan dari kita? Apakah si A yang berhutang Rp 100.000, atau si B yang berhutang Rp 1 Milyar? Tentunya si B yang akan dengan senang hati dan penuh syukur menerima bantuan kita, sedangkan si A mungkin masih berpikir dia bisa melunasi hutangnya dengan keringatnya sendiri. Begitu pula, orang jahat yang bertobat yang disalib di samping Tuhan Yesus, tentunya akan sangat bersyukur karena dia telah merasa dirinya tidak layak dan tanpa harapan. Namun, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang jahat” tersebut bertobat.

Lalu, apa sisi negatif dari “seorang munafik”? Sisi negatif dari “seorang munafik” adalah ketika mereka puas menjadi “orang munafik” dan tidak terus bertumbuh lagi. Celakanya ketika mereka merasa telah “berbuat baik”, mereka melupakan Tuhan yang sebenarnya satu-satunya harapan penolong mereka. Celakanya ketika mereka merasa sudah sembuh, padahal masih sakit, dan karena merasa sudah sembuh, mereka menolak pengobatan Sang Tabib. Jika mereka terus menjadi “orang munafik” tanpa pertumbuhan, nasib akhir mereka akan sama dengan nasib “orang jahat” yang tidak bertobat.

Dan yang terakhir, apa sisi positif dari “seorang munafik”? Sisi positifnya adalah setidaknya mereka sudah mengerti yang baik dan yang jahat. Ada pertentangan dalam batin mereka untuk melakukan hal-hal yang baik, meskipun mereka masih menyukai hal-hal yang jahat. Namun, itu semua adalah proses. Kalau saat ini mereka hanya baik di luar dan buruk di dalam, jika mereka mau terus bertumbuh dan terus mengandalkan Tuhan, Tuhan dapat mengubahkan sifat-sifat buruk di dalam tersebut menjadi sifat-sifat baik yang selama ini mereka tampilkan di luar. Mereka akhirnya dapat berbuat baik dan benar dari dalam diri mereka, tanpa mengenakan topeng. Namun sekali lagi, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang munafik” tersebut terus bertumbuh dan mengusahakan dirinya menjadi lebih baik lagi dan tidak munafik, tentunya dengan pertolongan Tuhan.

Jadi, saya tidak setuju kalau dikatakan daripada jadi “orang munafik”, lebih baik jadi “orang jahat” sekalian… Tidak! Kedua-duanya sama-sama berujung pada maut. Baik kita saat ini adalah “orang jahat” atau “orang munafik”, kita harus terus berjuang menjadi “orang yang baik dan benar”. Dan semuanya memang tidak terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan pembentukan dari Allah sepanjang hidup kita.

Kapan semua proses ini berakhir? Efesus 4:13-15 menuliskan, proses ini akan terus berlangsung “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Mari kita sama-sama berjuang, dengan pertolongan Tuhan, untuk meninggalkan “manusia jahat” dan “manusia munafik” kita, menjadi “manusia baru” yang melakukan hal yang baik dan benar dengan sepenuh hati kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin. :-)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s