Menabung Kebaikan

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.

Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”

Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.

  • Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
  • Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
  • Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
  • Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
  • Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.

Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”

Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…

  • Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
  • Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
  • Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
  • Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
  • Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.

Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.

Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”

Well, sangat baik jika Anda adalah seorang yang bisa melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih sedikit pun. Namun, realitanya, sangat sedikit orang yang bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar-benar tulus. Jika Anda jujur, Anda pasti akan menemukan alasan dari setiap hal yang Anda lakukan, yang ujung-ujungnya hampir pasti adalah untuk kesenangan Anda.

Apakah selalu salah jika menyenangkan diri sendiri? Ini semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya pribadi berpikir tidak salah menyenangkan diri sendiri, jika kesenangan kita tersebut adalah kesenangan orang lain juga. Kalau istilah kerennya, win-win solution. Dan, yang paling utama, bagaimana menjadikan kesenangan Tuhan menjadi kesenangan kita.

Jadi, mari kita sikapi kejadian yang terjadi di hidup kita dengan cara pandang yang baru, cara pandang jangka panjang. Marilah kita mulai menabung kebaikan sebanyak-banyaknya yang memberikan nilai tambah bagi orang lain… Dan bersiap-siaplah untuk melihat banyak “bunga” yang mungkin tidak Anda duga dari tabungan kebaikan yang Anda lakukan. :D

About these ads

6 pemikiran pada “Menabung Kebaikan

  1. Saya tidak tahu apa saya pernah menabung kebaikan, dan saya juga tidak tahu apakah yang saya lakukan adalah kebaikan.

    Namun saya tahu, jika beberapa orang bisa tersenyum dengan hal-hal kecil yang saya kerjakan, itu sudah cukup, yang lain jika ada biarlah saya tidak ingin pusing dengan hal-hal yang terlalu detail.

  2. Pemikiran kamu yang satu ini cukup menarik dan patut diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Apabila diamati secara seksama dari pengalaman pribadi saya,ternyata juga memberikan suatu gambaran yang hampir sama konsepnya . Salah satu contohnya yaitu dengan membeli kue kering, jajanan biasa , dan minuman jus yang ditawarkan oleh mereka yang kurang mampu keadaan ekonominya (yang padahal tidak saya butuhkan) tapi dalam hati saya berpikir pembelian saya secara tidak langsung setidaknya telah memberikan secercah harapan bagi mereka untuk terus berjuang dan bertahan dalam hidup , dan dengan pemikiran dan pemahaman seperti ini lah, alam akan memberikan kebaikan kembali kepada kita dengan mendatangkan kejutan-kejutan dalam hal penjualan kami secara keseluruhan dan terus ada peningkatan. Ikuti dan terapkan prinsip dan hukum alam , dan alam akan memberikan hoki dan kelimpahan untuk anda.

  3. Hai, salam kenal yah. Menabung kebaikan memang dapat diamati dari berbagai sudut dan cara penulisan, ada yang analitis, ada yang puitis, ada yang dramatis. Tulisan Anda cukup menarik, dan bisa terkait dengan artikel saya Lima Aksi Menuju Bahagia Instan.

    Saya yakin kita bisa saling memperkaya pemahaman satu sama lain.

    Sekali lagi salam kenal, sobat, nanti saya akan berkunjung lagi..

    Lex dePraxis
    Unlocked!

  4. Waaah… menurut saya agak2 salah nih, berbuat kebaikan untuk keuntungan kita di masa depan, adalah salah donk, berbuatlah baik karena Tuhan itu baik adanya.
    Contohnya: Jika kita kerja 8 jam, dan suatu hari diperlukan lembur tanpa dibayar, Lakukanlah karena Perusahaan sedang membutuhkan kita, bukan untuk berharap naik jabatan.

    Jika kita belajar 9 bab sedangkan ujian 8 bab, belajarlah sebab ilmu tidak pernah rugi untuk dipelajari berharap soal no:9 keluar tanpa diduga.

    Kasih dan Kebaikkan, adalah hal mulia, lakukanlah, jangan kita berharap reward,

    Betul kita sangat sulit untuk berbuat kebaikan tanpa pamrih, senantiasa mintlah kepada Tuhan agar dibisakan, Tetapi ini sdh pola pikir yang Hakiki bahwa manusia harus berbuat baik karena Tuhan itu Baik, jangan di ubah pola pikirnya. GBU All

    • @Ben:

      Hai Ben… Thanks yah untuk komentarnya. :D

      Saya setuju kalau idealnya, kita harus berbuat baik tanpa pamrih. Semua perbuatan baik yang kita lakukan adalah rasa syukur kita kalau kita sudah diselamatkan oleh Tuhan yang Maha Baik. :)

      Namun, meskipun di satu sisi kita harus mengejar idealisme tersebut, pada kenyataannya sangat sulit untuk berbuat sesuatu secara murni tanpa pamrih, karena itu adalah sifat manusia. Jadi, jika masih belum bisa melakukan yang ideal, setidaknya kita bisa berpikir keuntungan jangka panjang, dibandingkan dengan banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s