Jika ingin, Dia bisa turun dari salib!

2009 April 10

Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.

Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.

Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.

Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.

Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.

Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.

Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.

Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.

Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.

Dia seolah dijadikan “mainan” yang bisa dicambuk dan dipaku seenaknya oleh para prajurit. Dia disiksa dengan kejam padahal tidak ada kesalahan yang Dia perbuat. Dia menghadapi ketidakadilan, tetapi masih dapat mengampuni orang yang memperlakukan-Nya dengan tidak adil. Dia yang adalah Tuhan, menderita sengsara di atas kayu salib, di bukit Kalvari.

Dia adalah Yesus Kristus. He is an amazing Man, amazing God.

Dia bisa saja melepaskan diri-Nya dari semua penderitaan itu, tetapi Dia tidak melakukannya KARENA kasih-Nya kepada kita. Dia menanggung semuanya itu untuk kita. Sekarang, apakah balas kita kepada-Nya?

Selamat memperingati wafat Yesus Kristus di hari Jumat Agung ini.

5 Tanggapan leave one →
  1. 2009 April 12
    Yakub Nazar permalink

    Selamat Merayakan Matinya/Terbunuhnya Yesus!

    Mungkinkah jika dia mau bisa turun, Justru dia memanggil-manggil Allah, namun tidak ada tanggapan, ya jadi mana bisa Yesus turun, lawong Tuhan yang Yesus sembah saja tidak merespon, disini untuk menguji sejauh mana umat Yesus percaya pada Allah, eh malah menganggap Yesus Tuhan. Sungguh, sudah membunuh nabinya sendiri bukan bertobat pada Allah, malah menisbatkan ketuhanana Allah pada Yesus.

    aneh,

    lepas dari itu,

    SELAMAT ATAS MATI-NYA YESUS!

    • 2009 April 13
      Razan Bukay permalink

      Artikel yang menarik, saya suka.
      saya maklum kepada saudara Yakub Nazar, karena anda memberikan respon berdasarkan pengetahuan (pegangan) anda sendiri, atau mungkin berdasarkan kepercayaan anda sendiri (kalau memang punya ^_^)..
      Jumat Agung bagi orang yang percaya bukanlah merayakan atas wafatnya Yesus Kristus, tapi memperingati ( menghayati dan meng-imani ) wafatnya Yesus di kayu salib. Tentu anda dapat membedakan antara “Merayakan” dengan “Memperingati” kan, karena saya yakin Anda dulu juga sekolah seperti saya.
      Dan Paskah bagi orang percaya adalah merayakan Yesus yang tadinya wafat di Kayu salib, dan mampu bangkit dari kematiannya kembali pada hari yang ke-tiga. Untuk menunjukan ke-Tuhanannya kepada umat manusia.
      Di agama saya ( Kristen ), kami mengenal “Allah Tritunggal” (Allah Bapa, Roh Kudus, dan Yesus Kristus), itu untuk menjawab yang anda bilang “Aneh”itu.
      Dan ya, kami menganggap Yesus Kristus itu Tuhan.
      Kalau Anda belum bisa mengerti(menerima), ya saya mau bilang apa lagi, secara anda (mungkin) bukan beragama Kristen. Hehehe….
      Tapi saya yakin, semua agama di Dunia ini, mengajarkan hidup damai, bukan mencari kesalahan Kepercayaan orang lain, karena sebenarnya Agama itu adalah Hubungan “Diri Pribadi Kita” (Manusia) kepada “Sang Pencipta” (Tuhan). Mari kita Jalankan masing-masing Kepercayaan kita, tanpa membuat masalah dengan Kepercayaan Orang lain.
      Maaf kalau komentar saya agak menyinggung, atau mungkin agak berlepotan (semerawut) hehehe…
      Shaloom…

    • 2009 Oktober 15

      enak aja lo ngomong tuhan itu dilahirkan oleh roh kudus dan tidk pernah berbuat dosa dan dia di salib karna dosa MANUSIA Tobat Lah

  2. 2009 April 28

    Siapa sebenarnya yg meninggal di tiang salib?
    Yesus atau Judas Iscariot.?
    Kalau Yesus, gak mungkin.
    masa tuhan kalah dan mati.
    sampai2 teriak Eli eli lama sabahtani
    Kalau menurut Injil Barnabas sih Judas Iscariot yg oleh Tuhan diserupakan dengan Yesus demi menyelamatkan Yesus dari serangan tentara romawi.

  3. 2009 Mei 3
    abahguru permalink

    Saya rasa forum komentar seperti ini bukan yang tepat buat berdebat, apalagi saling menghina dan mencaci. Kita sudah muak dengan perilaku banyak netter yang tak bijak menghargai keyakinan dan memaksakan keyakinannya dengan caci maki.
    Saya sendiri adalah orang yang memiliki keyakinan berbeda dengan pengelola blog ini, namun jikapun ingin memperdebatkan keyakinan bukan di sini tempatnya. Kita boleh saling menyallahkan dan mendebat ya di forum yang memang disediakan untuk itu, secara terbuka, jujur dan dalam rangka mencari kebenaran. Banyak para pendahulu kita, para ulama, pendeta, biksu danlain sebagainya yang melakukan “debat terbuka” tapi itu dilakukan dengan sopan, dan penuh persaudaraan. Jangan dialkukan melalui forum-forum diskusi internet yang cenderung provokatif.
    Jika yang ingin kita sampaikan kita anggap sebagai sebuah kebenaran, ya sampaikan dengan cara baik dan bijak… dlandasi kecintaan kepada sesama manusia…
    Mudahan saya tidak salah… Trims

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS